Kamis, 19 September 2013

Combro

Ada satu makanan favorit saya sejak kecil. Combro. Dulu, ketika masih tinggal di Sindang Kasih, Purwakarta, ada seorang penjual kue keliling, namanya Bi Piah. Wanita paruh baya berpenampilan sederhana, berkebaya dan berkain samping ini, selalu membawa nampah di atas kepalanya dan menggendong boboko. Nampahnya penuh berisi makanan yang mungkin kini sudah jarang ditemui, seperti Dodongkal (Awug), Candil, Ketan, Katimus, Bala-bala, Pisang Goreng, Misro dan tentu saja, my favorite one, Combro. Kadang saking tak sabarnya menunggu, saya sering datang langsung ke rumah Bi Piah yang memang tak jauh dari rumah. Mengetuk pintu dapurnya dan berteriak " Bi Piah, meser Combro!" Dan biasanya Bi Piah pun akan membukakan pintu dapurnya dan membiarkan saya duduk di golodog pintu, menyaksikan kesibukannya yang tengah membuat berbagai penganan yang akan dijualnya. Meskipun sang Combro belum siap alias belum matang, saya akan dengan setia menunggui Bi Piah membuat Combro. Saya malah menikmati kegiatan di dapur Bi Piah yang sederhana itu meskipun kadang mata terasa perih dan kepanasan akibat hawa panas dari kayu bakar. Yup, Bi Piah masih menggunakan hawu atau kompor dari kayu bakar untuk memasak semua penganannya. Sampai akhirnya Combro pun matang dan bisa saya bawa pulang dalam kondisi masih panas.




Combro Bi Piah memang lain. Untuk membedakannya dengan Misro yang berbentuk lonjong, Combro Bi Piah berbentuk panjang seperti Risoles. Ada irisan bawang daun di kulit Combronya sehingga menyebarkan aroma wangi yang menerbitkan selera. Itu belum seberapa menarik air liurnya jika dibanding dengan sensasi ketika menggigit bagian isinya. Wuiih, wangi bawang daun dan rasa oncomnya yang pedas gurih bisa membuat saya lupa diri. Ini yang membuat saya ketagihan. Agak keras di bagian luar tapi begitu dikunyah singkongnya jadi 'chewy', dengan rasa oncom yang pedas, gurih dan wangi. 

Saya bisa mendadak amnesia berapa jumlah Combro yang saya makan.

Lama sekali saya tak merasakan combro Bi Piah. Bi Piah tutup usia ketika saya duduk di bangku SMP. Dan sejak saat itu tak pernah ada lagi teriakan Bi Piah yang menawarkan penganannya di siang hari. Dan tentu saja, tak pernah ada lagi Combro Bi Piah yang selalu saya kangeni.

Sekarang, saya tinggal di Tangerang dan telah berkeluarga. Namun sampai saat ini belum pernah lagi saya menemukan Combro yang rasanya sama atau hampir mendekati rasa Combro Bi Piah. Jangankan itu, untuk menemukan penjual Combro di Jakarta dan Tangerang saja sudah lumayan sulit. Jarang sekali saya menemukan Combro diantara berbagai jenis penganan gorengan yang dijual penjual gorengan pinggir jalan. Sekalinya berhasil menemukan Combro, saya pasti kegirangan dan tak bisa menahan hasrat untuk membeli lebih dari 5 potong Combro. Saya selalu membayangkan Combro Bi Piah, yang ketika digigit kulit luarnya terasa kering dan begitu dikunyah terasa kenyal dengan rasa oncom yang gurih dan wangi. Tapi, tiap kali menemukan tukang Combro, menggigit dan merasakan bagian isinya, tak pernah ada satu pun yang rasanya, sensasinya sama dengan Combro Bi Piah. 

Saya selalu berharap bisa menemukan sensasi Combro Bi Piah yang kangenable tiada dua itu. Jangankan berharap bisa menemukan rasa oncom yang sama, menemukan yang kulit luar Combronya bertaburan bawang daun pun sulit. Rata-rata Combro di Jakarta dan Tangerang yang pernah saya coba, kulit luarnya mulus, polos, tak begitu kering malah ketika dikunyah cenderung empuk seperti Bitterbalen. Bingung saya. Kadang saya menemukan rasa yang lain, yang tak hanya sekedar parutan singkong. Sepertinya ada bahan lain yang ikut dimasukan di dalamnya. Dan ternyata setelah saya mengobrol dengan beberapa orang, kelapa dan kentang sering diikutsertakan dalam parutan singkong Combro. Walah, pantesan saja rasanya tidak seperti Combro di Purwakarta dulu . 

Combro Bi Piah tak pernah dicampur dengan kelapa, kentang atau apapun. Hanya singkong saja sebagai selimut oncomnya. Saya tahu itu dari pengalaman saya menyaksikan proses Bi Piah membuat Combro. Ketidak sabaran saya untuk 'menyatroni' langsung dapur Bi Piah dulu, membuat saya tahu seperti apa dan bagaimana Bi Piah membuat Combronya. Semua bahannya tak ada yang istimewa, hanya singkong dan oncom serta bahan pelengkap lain seperti  bawang daun. Tak ada yang namanya dicampur dengan mentega agar terasa enak atau wangi. 

Combro adalah makanan jaman dulu dan bisa dibilang makanan kampung. Bahannya yang sederhana yakni singkong dan oncom memang sangat mudah didapat dan menjadi makanan sehari-hari masyarakat di kampung. Jadi kalau tiba-tiba Combro dimodif dengan bahan-bahan lain dengan alasan menyesuaikan dengan lidah kota atau biar nggak dibilang jadul, saya justru nggak setuju. Karena menurut saya itu akan merusak keorisinilan dari Combro itu sendiri yang memang makanan jadul nan sederhana. Bahannya ya cuma itu, singkong dan oncom, as simple as that. Mungkin inilah yang menyebabkan saya sulit menemukan Combro kampung di sini. Combro di Jakarta dan Tangerang sudah banyak yang dimodifikasi, dibuat seperti makanan modern, hingga akhirnya tak seorisinal Combro aslinya yang sederhana, 'chewy', gurih dan wangi bawang daun.

Akhirnya, setelah sekian lama tak memiliki keberanian untuk membuat Combro (terbebani dengan mindset bahwa Combro itu haruslah seperti Combro Bi Piah), saya pun tertarik membuat Combro. Ini tak lain dan tak bukan karena bingung melihat banyaknya singkong yang diberikan Si Abah, lelaki tua yang sering berkeliling komplek perumahan, yang menjual hasil kebunnya. Dengan hanya 5000 perak, saya bisa mendapatkan singkong lebih dari 2 kilo! Lantas singkong sebanyak itu, mau diapakan coba? Digoreng biasa sudah pernah, tapi dibikin Combro? Oke saya harus mencobanya, tekad saya.

Tidak, saya tidak tahu bumbu apa saja yang dipakai Bi Piah untuk meracik isi oncomnya yang teramat sangat fenomenal itu. Yang jelas rasanya begitu pas,  ada rasa manis, asin, pedas serta wewangian yang khas menyeruak dari tumisan oncomnya. Saya pun lalu membuka-buka halaman tabloid masakan lama saya dan browsing di internet untuk mencari tahu bumbu apa saja yang dipakai untuk membuat Combro. Dan ternyata memang benar, saya menemukan banyak sekali resep Combro yang menyertakan parutan kelapa di dalamnya. Katanya sih agar kulit Combronya gurih dan empuk. Well, untuk bagian yang ini saya skip. Saya hanya akan memakai singkong saja, seperti Bi Piah dulu. Dan untuk bumbu tumis oncomnya, saya mengandalkan insting saya saja. 

Langkah pertama, saya parut singkong lalu dicampur garam secukupnya dan tak lupa, bawang daun. Ini yang saya yakini membuat kulit Combro menjadi gurih dan wangi menerbitkan selera. Selanjutnya saya mulai meracik oncomnya. Oncom yang sudah dihancurkan ditumis beserta bumbu seperti bawang merah, cabai, bawang daun, gula dan garam. Berkali-kali saya mencicipi rasanya, menyamakan dengan isi oncom buatan Bi Piah. Ingatan serta lidah saya pun saya paksa untuk kembali mengingat-ingat,  seperti apa rasanya isi oncom Bi Piah dulu. Terkaget-kagetlah saya, ternyata setelah beberapa kali diotak-atik, rasa oncomnya mirip dengan punya Bi Piah! Subhanallah, saya kegirangan sendiri. Dan setelah semuanya siap, maka saya pun mulai membuat Combro.

Satu persatu bulatan Combro masuk ke penggorengan yang panas. Minyaknya sengaja saya perbanyak agar Combronya bisa terendam dan matang sempurna. Begitu berwarna kuning kecoklatan, Combro pun saya angkat. Wuiihh, wangi bawang daun benar-benar menggoda saya untuk segera mencicipi makanan favorit masa kecil saya ini. Tak sabar, saya pun mencomot satu buah Combro yang masih panas. Nekat, saya buka perut Combronya dengan tangan hingga isi oncomnya terburai keluar dengan asap panasnya menyeruak mengeluarkan wangi yang...hmmm sedaap! Dan begitu masuk ke mulut, saya merasa seperti kembali ke masa lalu. Huaaahhh....Subhanallah, ini dia Combro yang selalu saya kangeni selama ini. Combro Bi Piah! Meskipun kulit luarnya terasa lebih keras, tapi  isi oncomnya sudah sangat Bi Piah!

Bahagianya saya sampai-sampai saya menghabiskan beberapa potong Combro sambil memasak. Sekedar meyakinkan sekaligus menghilangkan kerinduan saya pada makanan masa kecil saya, yang sudah lama tak saya temukan. Terlebih pada Combro Bi Piah, yang menurut saya adalah Combro terenak yang pernah ada.

Yeah, akhirnya saya bisa juga membuat Combro enak seperti Bi Piah!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar